So, there was this pop-up info from Avast anti-virus said that I may need to fix my browser for better virus protection..

As I clicked the “Fix Now” button, a new tab-window opened. It suggested me to download and use Google Chrome instead of my current browser……

The thing is.. My current broswer that opened this “infomercial” is….

Google Chrome…

#JustGoogleBeingSilly – at Syndicate73 HQ

View on Path

Understanding a Hidden Campaign; The Maserati Ghibli & EuroNCAP – YouTube Video

Usual late-afternoon, jelang jam pulang kantor..
Dan gue lagi streaming salah satu Subscribed VLOG (Video Blog) Channel favorit gue di YouTube.

Dan gue melihat video di bawah ini, di list video di sisi kanan layar.
Dari judulnya dan viewfinder awal, gue merasa ini tuh iklan.
Dan gue klik lah, video ini:

 

 

Okeh,
Kalau melihat dari channel YouTube-nya (official EuroNCAP), gue pikir ini cuma video yang menunjukkan performa si Maserati Ghibli pada saat menjalani Tes Tabrakan yang sudah menjadi standar di negara-negara di Eropa.

Tapi balik lagi ke konten dari video itu sendiri,
Gue merasa video itu sangat “well-prepared” dan sangat “Communicating the Maserati“, for every single second.
Gue yakin ini jadinya adalah iklan TVC dari Maserati yang memanfaatkan organisasi Euro NCAP untuk sekaligus memperlihatkan keunggulan desain serta teknologi Maserati yang sangat menjunjung tinggi safety.

Sampai di ending dari video itu,
Diperlihatkanlah gambar Maserati Ghibli dengan bagian depan yang hancur, kemudian tagline “Safety is Not a Luxury” pun muncul.
Tapi kemudian, di saat gue mulai berpikir ini adalah TVC Maserati, semua itu diakhiri dengan logo EuroNCAP.

Well,
I’m still believing that it’s an ad.
I just don’t get it quite clear which brand will be beneficial from this TVC, Maserati or EuroNCAP?
However, if it’s EuroNCAP’s ad, then it’s a nice move using Maserati as part of the campaign..
:D

Pentingnya Belajar Bertanggung Jawab dari Kecil

Judul blog gue kali ini agak sedikit serius ya?

Kalau kita sering lihat di jalan raya, sering sekali pemotor melakukan kesalahan-kesalahan yang melibatkan pengguna jalan lain tapi kemudian memilih segera kabur dari lokasi kejadian daripada harus repot bertanggung jawab atas kesalahannya.

Contoh terkecil adalah ketika seorang pemotor dengan tidak sengaja menyerempet spion atau bodi dari mobil. Alih-alih berhenti dan meminta maaf, si pemotor biasanya akan segera tancap gas. Bahkan dalam beberapa kasus, malah galakan si pemotornya lho.

Gue ga ada maksud mendiskreditkan pemotor, karena gue sendiri juga adalah seorang pemotor. Contoh tadi adalah sedikit intermezzo aja.

Sepertinya bertanggung jawab atas kesalahan itu (terutama kesalahan kecil), sama sekali bukan ciri dari sebagian orang-orang di Jakarta. Padahal, kalau terbiasa lari dari tanggung jawab untuk suatu kesalahan kecil; coba gimana akibatnya ketika si orang tersebut membuat kesalahan besar??

Setidaknya berita di TV mengenai beberapa pejabat yang korup bisa jadi contoh, betapa enggannya mereka bertanggung jawab untuk kesalahan besar yang bahkan merugikan orang banyak.

Ketika hal-hal itu menjadi semakin lumrah adalah hal yang ironis saat anak-anak kecil yang harusnya dididik (dan terdidik) dengan baik, mengambil cerita-cerita di atas itu sebagai contoh dalam keseharian mereka. Anak-anak kecil ini pun menjadi terbiasa untuk tidak mau bertanggung jawab atas segala kesalahan mereka (bahkan yang kecil sekalipun), terutama ketika mereka memiliki kesempatan untuk lari dari masalah/kesalahan itu.

Contoh nyata dari hal ini, baru saja gue alami tadi sore.

Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 21:00. Gue sedang menuju warung dekat rumah gue, ketika gue melihat seorang anak kecil berumur sekitar 5/6 tahun ada di warung tersebut. Orang tua si anak tidak tampak, dan dia terlihat sedang bermain dengan seekor kucing kecil yang kebetulan sedang ada di warung tersebut.

Dengan menginjak kardus minuman (tanpa alas kaki), si anak kecil ini mengelus-elus kucing tersebut. Namun, secara tidak sengaja tangannya menyenggol kaleng kecil berisi tumpukan sedotan. Dan akhirnya kaleng itu terguling, dan seluruh sedotan-sedotan itu berjatuhan ke jalanan yang becek dan kotor. Gue melihat itu dari agak jauh, dan gue berkomentar “yahh..” ketika kaleng itu terguling dan isinya berjatuhan. Si anak tersebut melihat gue dan terdiam sebentar. Gue rasa yang punya warung pasti lagi dengerin musik dengan headset sehingga dia sendiri tidak sadar.

Yang terjadinya berikutnya sungguh ironis. Si anak tersebut langsung turun dari kardus yang dia injak, mengambil kedua sendalnya, dan lari menjauh tanpa alas-kaki….

Betapa takutnya si anak tersebut, sehingga dia harus lari daripada repot membereskan sedotan-sedotan yang masih bisa diselamatkan (sedotan dengan plastik pembungkus yang masih utuh) dan meminta maaf ke pemilik warung.

Siapa yang salah kalau seperti ini? Apakah sebegitu beratnya untuk meminta maaf atas suatu kesalahan kecil? Apakah sebegitu susahnya bertanggung jawab atas perbuatan kita?

Salah ngga gue, kalau gue bilang yang bersalah di kasus kaleng sedotan itu adalah orang tua dari anak tersebut?

Bukan apa-apa. Gue sering sekali melihat orang tua (terutama kaum ibu, dan terutama dari golongan menengah ke bawah) akan memarahi anaknya apabila hal seperti kasus kaleng sedotan itu terjadi di depan mata si orang tua. Setelah mengomel, sang orang tua biasanya hanya akan menarik anaknya menjauh dari lokasi, dan sering kali tidak mengucapkan apapun ke pihak yang dirugikan (well, kalau pun minta maaf biasanya hanya ala kadarnya saja dan itupun si orang tua yang minta maaf dan bukan si anak).

Karena reaksi orang tua yang seperti itu, (menurut gue) membuat si anak merasa takut karena telah berbuat kesalahan kecil. Kesalahan kecil yang membuat dia dimarahi seakan-akan itu adalah suatu kesalahan besar. Dan kemudian, si anak pun tidak melihat contoh/anjuran untuk meminta maaf. Kalaupun ada, yang terjadi adalah si anak seperti dipaksa untuk meminta maaf dengan diiring omelan dari si orang tua.

Hal ini (lagi-lagi menurut gue), memberikan pelajaran ke si anak tersebut bahwa minta maaf itu ngga enak, dan berbuat kesalahan itu hanya akan memberikan masalah ketika ia harus bertanggung jawab. Pada akhirnya, tabiat seperti ini pun berakar sampai mereka bertambah usia. Dan yang terjadi berikutnya adalah kasus-kasus seperti 2 kasus yang tadi gue contohkan di atas.

Hmm…

Entahlah…

 

A new trend of Video-ads within Social Networking Services

I believe many people already aware about video-ads on YouTube. Mainly, there are two types of ads.

A 16-second-or-so video that you can’t skip and have to watch before you watch the exact chosen video.

The second one is the Skip-able video that are ranging from 30 seconds to something around 6 minutes (based on my own experience); this one, however, you can skip after 5 seconds.

The reaction to these YouTube ads are various; some are fine with these, while many more tend to dislike the existence of these ads. Even more, there was a joke that the longest 5-second that one ever experience is waiting for the “Skip the Ad” button showed up in YouTube.

Then,

Now there’s a new stuff coming from Facebook.

According to a leaked document, which then reported by The Next Web, Facebook is about to introduce its own video-ads. Wall Street Journal published (http://online.wsj.com/news/articles/SB10001424052702304403804579263371125671670) that Facebook will announce its video ad service this Tuesday, and the ads to start appearing on Thursday. The article also claimed that Lions Gate Entertainment will be the first client/brand to utilize this service.

The report stated that the video-ad itself will be in a form of auto-play video, thus no further information on how long the video itself will be played or whether there will be a “Skip Ad” mechanism.

Honestly, I’m not against this emerging form of online advertising. I believe that this is one great way to engage more to brands’ target audience, since video gives more information than plain texts/pictures.

I reckon that it’s a strategy from Facebook to steal some YouTube’s loyal visitors, since its own Facebook-video service ain’t performed quite well (in my own opinion).

Let’s just see where it goes…

The irony of (my) LG Optimus Black

Having an Android phone brings so much goodness for me. I still remember the day I laid down my 2nd BlackBerry handset and bought myself a nice low-end Samsung Galaxy Y (cdma version).

I’m a gadget-freak, people may say. And this LG Optimus Black is my 3rd Android-based smartphone in just 1.5 years period. I had an LG L3 as my 2nd Android-phone, yet decided to laid it off. Small RAM (only 384mb in total) was such a pain in the ass. Plus, the small size & low-class specs lead to the fact that I couldn’t do much with the huge apps that Google offers in its Play Store.

Now with this LG Optimus Black in hand (I bought it around 2 months ago), my so-called Android experience has been pretty nice. Why LG? That was because Samsung is becoming too mainstream. It’s like the “BlackBerry of Android“, and I just don’t feel comfortable looking at so many other people hold on the exact same phone like the one that I have in hand. However, my decision to choose LG came with a price of its own.

Android comes with this rapid development of OS. Google seems so loaded to maintain its power against Apple’s iOS & the emerging WindowsPhone OS by Microsoft. There’s no signal of “slowing down the pace” in OS updates. And the downside of having an LG Android-phone is the fact that LG (seems like) put so little effort in providing software updates for its smartphones.

Not all lines from all the brands will enjoy updates, due to the limitations of spec-standard. That fact was so much understood, yet acceptable. That was why I spent my budget on Optimus Black, which was a mid-high smartphone. This phone can be compared with Samsung Galaxy S2 & SonyEriccson Experia Arc, and even iPhone 4.

Optimus Black came with a stock Android 2.2 Froyo OS, and it got update to 2.3 Gingerbread in the beginning of 2012. Well, that update was late compare to other brands.

In the meantime, most Android phones are having the 4.0 Ice Cream Sandwich (ICS) OS installed. Quite many 2011-built Androids are already being upgraded to this OS version.

LG, on the other hand, is just giving empty promises about the update to its mid-high Optimus series; Black, 2X, & 3D. The first promise said that the ICS update will come in March 2012, then they revised the statement to mid 2012, and finally mentioned that it’ll comes in the 3rd quarter of 2012 (that ends in September).

So?
It’s now mid October, and there isn’t any single official statement from LG about its lies.

I was so upset, really upset.
Then the pain got worse when I read news from GSMarena.com that Samsung is preparing the Android 4.1 JellyBean updates for some of its Galaxy series.

JellyBean is the next generation of Android version after Android 4.0 ICS, that has been around for few months.

I was so much in rage when I knew that the Galaxy Mini 2 (considered as a low-end Android phone) was on that Samsung’s list for JellyBean updates!

I decided to contact LG Indonesia to get clear information about this on-off confirmation, yet none of its customer service channels gave satisfying feedback. I’ve contacted all; from email, YM-customer service, and even its Twitter official account.

Few days ago, I looked at the spec of Samsung Nexus S on GSMarena.com. That was when I also realized that my Optimus Black has specification that almost 100% similar to that Google-Samsung device, and even that phone is already being updated to Android 4.1 JellyBean!

Yeah, I know that the Nexus series will always be the first to get the update. Plus, Google assured that Nexus will always be capable for software updates. But still, I was so pissed off.

The pain still goes on today.
I was skimming through the news on GSMarena.com & pulsaonline.co.id, when I read the news that Sony has prepared Android 4.1 JellyBean updates for some of its 2011-made Xperia series!

All I can say that..
I’m so dissapointed with LG right now. Such a shame that LG can’t even maintain its customers’ loyalty with its bad customer service & awful software-update services.
And to think that I’m still in love with this brand & its Android phones (at least, my own Optimus Black); such an irony.

“upsize itu apa sih, mbak?” – sebuah ironi di McD…

Minggu kemarin (Oct 14th, 2012); gue, pacar, dan sahabat gue mutusin untuk lived up our Sundays by going to 3 different events di sekitaran Jakarta.

Dimulai di siang hari yang agak terik, kita bertemu di event pertama hari itu; Social Media Festival 2012.
Not much to say, walau gue merasa event yang sebelumnya terasa lebih hits (dan pastinya lebih adem karena indoor)

Lanjut yang berikutnya; Indonesia Game Show
Err, sumpah ini acara yang paling absurd. Super not well-organized, dan sangat tidak menarik!
Cuma berasa kayak warnet khusus gaming pindah ke JCC.

Dan akhirnya menuju ke venue terakhir; Tokove – Kemang untuk event “Kopi Keliling; The Art Market
Acara (yang walau keliatan agak small community, dan less previously-informed) super seru.

I’ll talk about it later, karena yg pengen gue omongin di post ini hukan tentang ketiga event itu.. :P

So,
Sebelum cabut ke Tokove, mampirlah gue bertiga ke McD – Kemang for a quick late-lunch.
Saat ngantri, ada deh cowok unyu gitu.. Putih, mirip-mirip Jorge Lorenzo, bikin pandangan terpaku padanya
(padahal ada pacar, tapi yah sudahlah :P)

Ehh..
Mulai salah fokus deh..

Jadi pas gue ngantri, lihat deh tuh gue sama a bunch of Kemang-like anak-anak mahasiswa/i yg terlihat gaul dibaluti fasilitas yg agak mahal. Biasa lah yaa, yang cewek-cewek berasa hits dengan kacamata Korea dan jeans super-short plus gadget mahal di tangan.
Yang cowok-cowoknya juga demikian.. Uhmm, bukan artinya mereka pake jeans ala hot pants juga yah.. :|
Yahh, intinya your typical mahasiswa gahoel Jakarta/kemang deh..

Dan……..
Betapa gue ngga bisa nahan ketawa gue, saat salah satu dari cowok itu pesan menu sama staff McD-nya.
Saat si staff itu bertanya, “Minuman sama French Fries-nya mau di upsize ga, mas?
….
….
SI cowok itu sempat terdiam dengan muka yang mencirikan “kebegoan“,
dan lalu dia bertanya, “Upsize itu apa yah, mbak??” (pastinya tetap dengan ekspresi bego yang sama)
….
….
….

Jujur yah,
Gue ngeliat ekspresi si mbak-mbak staff McD-nya yang amazed dengan pertanyaan-balik dari konsumen di depan mata dia itu.
Alisnya sedikit ditarik… Mulut terkatup nahan ketawa…
Upsize maksudnya ukurannya diganti ke yang besar mas“, begitulah si staff McD harus menjelaskan apa itu “upsize“.

Dan hebatnya…….
Cowok tadi cuma ngangguk sambil bilang “ohh..” (tetap dengan ekspresi bego)

Yahh,
Pemandangan kayak gitu sih mungkin terdengar biasa kalau yang pesan makanannya emang baru kali pertama ke McD dalam seumur hidupnya.
Atau mungkin anak daerah yang baru kali pertama menginjak tanah Jakarta (walau kayaknya McD mah ya udah ada di berbagai pelosok deh ya)

Tapi,
Agak absurd saat kata-kata “upsize itu apa sih, mbak?” datang dari mulut pemuda/pemudi yang terlihat necis dan (ceritanya) hits plus gaul, lengkap dengan aksesoris dan gadget terkini…
Kasian anak mudanya, kakakk…
Menang gaya dan tampang doank atuh lah…

*moment of silence
#IroniJakarta