The irony of (my) LG Optimus Black

Having an Android phone brings so much goodness for me. I still remember the day I laid down my 2nd BlackBerry handset and bought myself a nice low-end Samsung Galaxy Y (cdma version).

I’m a gadget-freak, people may say. And this LG Optimus Black is my 3rd Android-based smartphone in just 1.5 years period. I had an LG L3 as my 2nd Android-phone, yet decided to laid it off. Small RAM (only 384mb in total) was such a pain in the ass. Plus, the small size & low-class specs lead to the fact that I couldn’t do much with the huge apps that Google offers in its Play Store.

Now with this LG Optimus Black in hand (I bought it around 2 months ago), my so-called Android experience has been pretty nice. Why LG? That was because Samsung is becoming too mainstream. It’s like the “BlackBerry of Android“, and I just don’t feel comfortable looking at so many other people hold on the exact same phone like the one that I have in hand. However, my decision to choose LG came with a price of its own.

Android comes with this rapid development of OS. Google seems so loaded to maintain its power against Apple’s iOS & the emerging WindowsPhone OS by Microsoft. There’s no signal of “slowing down the pace” in OS updates. And the downside of having an LG Android-phone is the fact that LG (seems like) put so little effort in providing software updates for its smartphones.

Not all lines from all the brands will enjoy updates, due to the limitations of spec-standard. That fact was so much understood, yet acceptable. That was why I spent my budget on Optimus Black, which was a mid-high smartphone. This phone can be compared with Samsung Galaxy S2 & SonyEriccson Experia Arc, and even iPhone 4.

Optimus Black came with a stock Android 2.2 Froyo OS, and it got update to 2.3 Gingerbread in the beginning of 2012. Well, that update was late compare to other brands.

In the meantime, most Android phones are having the 4.0 Ice Cream Sandwich (ICS) OS installed. Quite many 2011-built Androids are already being upgraded to this OS version.

LG, on the other hand, is just giving empty promises about the update to its mid-high Optimus series; Black, 2X, & 3D. The first promise said that the ICS update will come in March 2012, then they revised the statement to mid 2012, and finally mentioned that it’ll comes in the 3rd quarter of 2012 (that ends in September).

So?
It’s now mid October, and there isn’t any single official statement from LG about its lies.

I was so upset, really upset.
Then the pain got worse when I read news from GSMarena.com that Samsung is preparing the Android 4.1 JellyBean updates for some of its Galaxy series.

JellyBean is the next generation of Android version after Android 4.0 ICS, that has been around for few months.

I was so much in rage when I knew that the Galaxy Mini 2 (considered as a low-end Android phone) was on that Samsung’s list for JellyBean updates!

I decided to contact LG Indonesia to get clear information about this on-off confirmation, yet none of its customer service channels gave satisfying feedback. I’ve contacted all; from email, YM-customer service, and even its Twitter official account.

Few days ago, I looked at the spec of Samsung Nexus S on GSMarena.com. That was when I also realized that my Optimus Black has specification that almost 100% similar to that Google-Samsung device, and even that phone is already being updated to Android 4.1 JellyBean!

Yeah, I know that the Nexus series will always be the first to get the update. Plus, Google assured that Nexus will always be capable for software updates. But still, I was so pissed off.

The pain still goes on today.
I was skimming through the news on GSMarena.com & pulsaonline.co.id, when I read the news that Sony has prepared Android 4.1 JellyBean updates for some of its 2011-made Xperia series!

All I can say that..
I’m so dissapointed with LG right now. Such a shame that LG can’t even maintain its customers’ loyalty with its bad customer service & awful software-update services.
And to think that I’m still in love with this brand & its Android phones (at least, my own Optimus Black); such an irony.

“upsize itu apa sih, mbak?” – sebuah ironi di McD…

Minggu kemarin (Oct 14th, 2012); gue, pacar, dan sahabat gue mutusin untuk lived up our Sundays by going to 3 different events di sekitaran Jakarta.

Dimulai di siang hari yang agak terik, kita bertemu di event pertama hari itu; Social Media Festival 2012.
Not much to say, walau gue merasa event yang sebelumnya terasa lebih hits (dan pastinya lebih adem karena indoor)

Lanjut yang berikutnya; Indonesia Game Show
Err, sumpah ini acara yang paling absurd. Super not well-organized, dan sangat tidak menarik!
Cuma berasa kayak warnet khusus gaming pindah ke JCC.

Dan akhirnya menuju ke venue terakhir; Tokove – Kemang untuk event “Kopi Keliling; The Art Market
Acara (yang walau keliatan agak small community, dan less previously-informed) super seru.

I’ll talk about it later, karena yg pengen gue omongin di post ini hukan tentang ketiga event itu.. :P

So,
Sebelum cabut ke Tokove, mampirlah gue bertiga ke McD – Kemang for a quick late-lunch.
Saat ngantri, ada deh cowok unyu gitu.. Putih, mirip-mirip Jorge Lorenzo, bikin pandangan terpaku padanya
(padahal ada pacar, tapi yah sudahlah :P )

Ehh..
Mulai salah fokus deh..

Jadi pas gue ngantri, lihat deh tuh gue sama a bunch of Kemang-like anak-anak mahasiswa/i yg terlihat gaul dibaluti fasilitas yg agak mahal. Biasa lah yaa, yang cewek-cewek berasa hits dengan kacamata Korea dan jeans super-short plus gadget mahal di tangan.
Yang cowok-cowoknya juga demikian.. Uhmm, bukan artinya mereka pake jeans ala hot pants juga yah.. :|
Yahh, intinya your typical mahasiswa gahoel Jakarta/kemang deh..

Dan……..
Betapa gue ngga bisa nahan ketawa gue, saat salah satu dari cowok itu pesan menu sama staff McD-nya.
Saat si staff itu bertanya, “Minuman sama French Fries-nya mau di upsize ga, mas?
….
….
SI cowok itu sempat terdiam dengan muka yang mencirikan “kebegoan“,
dan lalu dia bertanya, “Upsize itu apa yah, mbak??” (pastinya tetap dengan ekspresi bego yang sama)
….
….
….

Jujur yah,
Gue ngeliat ekspresi si mbak-mbak staff McD-nya yang amazed dengan pertanyaan-balik dari konsumen di depan mata dia itu.
Alisnya sedikit ditarik… Mulut terkatup nahan ketawa…
Upsize maksudnya ukurannya diganti ke yang besar mas“, begitulah si staff McD harus menjelaskan apa itu “upsize“.

Dan hebatnya…….
Cowok tadi cuma ngangguk sambil bilang “ohh..” (tetap dengan ekspresi bego)

Yahh,
Pemandangan kayak gitu sih mungkin terdengar biasa kalau yang pesan makanannya emang baru kali pertama ke McD dalam seumur hidupnya.
Atau mungkin anak daerah yang baru kali pertama menginjak tanah Jakarta (walau kayaknya McD mah ya udah ada di berbagai pelosok deh ya)

Tapi,
Agak absurd saat kata-kata “upsize itu apa sih, mbak?” datang dari mulut pemuda/pemudi yang terlihat necis dan (ceritanya) hits plus gaul, lengkap dengan aksesoris dan gadget terkini…
Kasian anak mudanya, kakakk…
Menang gaya dan tampang doank atuh lah…

*moment of silence
#IroniJakarta

Diantara Symbian dan Asha S40: Sepotong Cerita tentang Nokia…

Nokia…

Walaupun, sekarang ini di Jakarta, ke mana pun mata menoleh yang terlihat sangat obvious adalah brand Kanada itu; gue tetaplah salah satu pengguna setia dari brand Finlandia ini.

To be honest,
I was craving for Nokia Lumia – Windows Phone yang gue yakin bakal lebih bagus daripada BlackBerry.
Sayangnya disaat dana sudah terkumpul untuk membeli salah satu dari seri Nokia Lumia yang beredar sekarang dengan OS WindowsPhone 7.5, dapatlah update dari gsmarena.com kalau Microsoft akan segera meluncurkan OS WindowsPhone 8 terbaru yang ternyataaa……

Tidak satupun dari seri Nokia Lumia yang ada sekarang ini (maupun seri WindowsPhone 7.5 dari vendor lainnya) yang bisa diupgrade ke WindowsPhone 8 !!!
And this is one of those moments when you just have to hate Microsoft, well sometimes. :(

Dan ketika tingkat ke-error-an Nokia E63 gue sudah dalam taraf yang tidak dapat ditolerir, ,terpaksa gue akhirnya menjualnya dan membeli ponsel pengganti. FYI, tetap Nokia lahh.. I’m still one of its biggest fans! :D

Dan gue dihadapkan pada 2 pilihan OS yang sekarang ini diadopsi oleh Nokia (selain WindowsPhone); which are Symbian Anna/Belle or S40.

Symbian; has been inside any Nokia phones for more than a decade. Sayangnya sekarang ini Nokia dalam proses meninggalkan OS yang udah dari dulu melekat banget sama brand-nya sendiri.

S40; dari yang gue tahu (atau mungkin lebih tepatnya, ke-Sok Tahu-an gue) S40 adalah OS hasil karya Nokia sendiri untuk ponsel mid-low nya yang baru dengan nama seri produk Asha. Dan jujur yahh, banyak aja itu tipe Asha-Asha dari Nokia yang malah makin gue galau mau pilih yang mana.

Gue bingung mau pake yg OS mana, dan akhirnya gue browsing ke website Nokia Indonesia untuk membandingkan spek general (untuk tipe ponsel yang sesuai kantong pastinya) dari masing-masing OS itu (terutama untuk processor speed & RAM size) dan tentunya keberagaman dari aplikasi-aplikasi yang disediain oleh Nokia.

Yeahh, gue juga ga berharap segala apps yang ada di ANdroid gue bakal ada di S40 ataupun Symbian. Plus, gue bakal gunain ponsel ini untuk urusan kerjaan. Jadi selama Push-Email dan WhatsApp ada gue udah cukup hepi sih.

Dan akhirnya gue baca di gsmarena.com kalau Twitter meluncurkan official apps-nya untuk Nokia Asha..!! Yeah, Asha.. Bukan Symbian (yang masih setia dengan TweetS60 or Socially).
Dan pikiran gue yang kadang suka tumpul ini pun langsung menganggap kalau Nokia Asha memiliki ragam apps yang lebih banyak dibanding Nokia Symbian..

So, jadilah gue beli Nokia Asha 311.
Not that special, yet not really bad either. A quite good phone that has 3.2″ capacitive touch screen with gorilla-glass technology. And it only costs for Rp. 1,100,000.

Well, as for me, lumayan buat ponsel sementara sambil nunggu Lumia dengan WindowsPhone 8 resmi keluar di Indonesia (baca: yang harganya sesuai kantong)

Tapiiiiiii….

Akhirnya gue mesti kecewa dengan ketumpulan otak gue yang kadang suka kambuh dan sifat impulsive-buying gue yang agak-agak nyebelin ini.

Gue pakai Nokia ini untuk urusan kantor. Gue membutuhkan: internet browser yg lebih simpel, aplikasi dokumen office, dan semacamnya!
Guess what…

Di list aplikasi Nokia Asha tidak ada: Opera Browser, Office Docs Viewer/Editor, dan PDF Reader!!
Dan aplikasi-aplikasi yang gue sebut di atas, tersedia semua di Nokia dengan OS Symbian!!!

Jadi, gue lebih milih OS Asha cuma karena ada official Twitter apps!! Yang jelas-jelas gue lebih sering nge-Tweet dari Android gue donk yahh..

Akhirnya gue cuma bisa meringis, terduduk galau saat gue menyadari fakta menyakitkan dan menyebalkan ini.
(Yahh, maap deh kalau tetiba ane lebay.. Mohon maap lahir batin yakk..)

Sekarang cuma bisa terima nasib saja,
Sampai si Lumia-series dengan WindowsPhone 8 resmi keluar di Indonesia..
Dannnn… Pleaseee bangetttt Nokia…

Jangan mahal-mahal yah..
:D

Cheers…

Candi Borobudur Punya Siapa?

Ada yang bisa jawab pertanyaan di atas?

Oke, gue bukan mau ngomongin tentang yet-another-kebudayaan yang diakuin sama negara tetangga.
Sama sekali bukan!

yakalii bangunan segede itu diakuin sama Malaysia, gimana juga mau dibawa ke sana yah?
#OkeIniSokLucu

Anyway,
Tadi pagi gue baca satu news-article menarik di majalah “Marketeers“.
majalah lokal tentang bisnis & marketing yang di-publish oleh my Marketing idol; Hermawan Kartadjaya.

Di news seukuran 1/4 halaman itu, gue baca satu berita menarik;
Jerman, bekerja sama dengan UNESCO, menggelontorkan dana sampai sekitar US$ 130,000 di pertengahan Juni 2012 sebagai kelanjutan proyek pelestarian Candi Borobudur.

Oke, di kalimat sebelumnya itu ada kata “kelanjutan“!
Jadi apa yang dilakukan oleh negara Eropa itu adalah kelanjutan dari proyek yang sama sudah dilakukan di pertengahan tahun 2011 lalu.

Dan, reaksi pertama gue adalah:
Damn, kemana sang pemilik asli dari Candi tersebut?? Kemana orang-orang bangsa ini yang katanya bangga sebagai bangsa Indonesia??

Bahkan untuk pelestarian cagar budaya (yang juga salah satu keajaiban dunia), bangsa ini malah tidak terdengar dan bahkan membutuhkan bangsa lain untuk turun tangan dan bertindak.
Sehingga akhirnya gue berpikir teori sebab-akibat dari beberapa kebudayaan (dan bahkan 2 pulau kecil) yang jatuh ke tangan negara tetangga.

Untuk sesuatu yang secara fisik begitu besar saja kita ini ngga perduli, apalagi yang kecil-kecil.
Pada akhirnya cuma bisa marah dan menghujat setelahnya.
kemana aja masbro/mbakbro selama ini?? Kenapa juga ngga dilestarikan dan malah lebih milih untuk terus meng-absorb budaya luar biar dibilang gaul & maju??

Well,
Silahkan hujat gue untuk posting gue yang ini.
Tapi kalau pakai istilah Davis Guggenheim, ini adalah suatu “Inconvenient Truth” tentang diri kita sebagai suatu bangsa yang terkadang lupa (atau mungkin malu mengakui) dengan nilai-nilai kebangsaan dan budaya kita sendiri.

Such an irony…

The Promising Rise of WindowsPhone…

beberapa waktu lalu gue membaca berita di Detik i-Net (bagian dari Detikcom) yang mewartakan fakta menarik tentang performa penjualan WindowsPhone di China

Berikut link-nya:

detikInet : Microsoft: Windows Phone Kalahkan iPhone di China.

Well,
Buat gue ini adalah suatu berita yang sangat bagus.

I do adore Apple for its iMac & MacBook, tapi gue bukan penggemar seri iPhone dan iPad dari brand apel-digigit itu.
Sorry Steve Jobs, your charm ain’t that good to make me love all your inventions. Hahaha.

Anyway,
Dari berita tersebut gue lihat pangsa pasar WindowsPhone (yang kemudian juga ditunjang oleh agresifnya Nokia dengan seri Lumia-nya) mampu mengalahkan performa penjualan iPhone di Cina.
Walau di sisi lain, Android masih menguasai pangsa pasar smartphone dengan persentasi lebih dari 60%.

Dan fakta ini makin membuat gue jatuh cinta dengan OS buatan Microsoft ini, dan kesempatan untuk semakin setia dengan Nokia.
*well, I’m using Nokia E63 right now to accompany my Android LG L3 though*

Dan sekitar 1 bulan yang lalu, Nokia Indonesia meluncurkan seri ketiga dari rangkaian Lumia-nya. Nokia Lumia 610!
WindowsPhone besutan brand Finlandia ini dijual dengan harga Rp. 2.250.000.
Jujur aja, gue yakin dalam 2/3 bulan ke depan pasti harganya akan semakin turun. And that’ll be one yummy fact! :P
Bicara spek? Nokia dengan sangat murah hatinya memberikan spek yg memang di bawah Lumia 800 & 710 tapi dengan performa yang tetap bagus.

Okay then,
Let’s save up some money and get ready to replace this E63 to one of those Lumia series.
Hopefully I can manage to buy myself the latest Lumia 900 :P

Cheers.

the 3 things that complete my Lion-Air flight.. just a fun notes..

Blog-post ini gue tulis di ketinggian ribuan kaki dari bumi, di bawah langit berwarna biru cerah dan di atas gugusan awan.

Setelah vakum cukup lama dari kegiatan transportasi dengan menggunakan burung besi, akhirnya hari ini gue naik burung besi lagi; kali ini dengan nama Lion Air.
Dan, untuk kali pertama dalam hidup gue, gue akan menginjak tanah pulau dewata.
*yupp, gue belum pernah sama sekali ke Bali, dan gue ngga malu untuk mengakui hal ini* 

Anyway,
Gue berangkat ke Bali bareng Lidya, teman satu kantor, untuk ikut serta di event Asia Pacific Media Forum 2012 yang diadain di Nusa Dua. Lidya dari tim Marketing, dan gue dari tim Creative.

Gue sebenarnya Cuma mau share sedikit pengalaman hari ini.
Dimulai dari berangkat ke bandara (dari kantor) yang agak telat. Thanks to pagi harinya, dimana gue dan Lidya sama-sama sibuk karena kita masing-masing ada meeting pagi dengan klien.
Sedikit lega selama perjalanan dari kantor gue (Thamrin) ke bandara (Cengkareng), sang supir taksi (Pak Darsono, ExpressGroup) mampu bermanuver dan ber-zigzag dengan canggihnya. Semua dia lakukan karena diawal perjalanan gue udah nuntut si pak supir taksi untuk ngebut. Hehehe.

Sayangnya yahh, di saat Jakarta siang hari ini panas banget (menurut @InfoJakarta via Twitter, sekitar 34.8⁰ Celsius), si pak supir taksi ini pelit bener sama AC-nya. Panas gila gitu di dalam taksi putih itu.

Tapi, ya sudahlah, yang penting tetap sampai. Yang penting Cepat & Selamat! :P

Sampai di bandara, gue dan Lidya mulai agak panik karena ternyata jam sudah nunjukin waktu jelang pesawat boarding.
Sempet di buat puyeng sama counter check-in Lion Air yang melempar kesana-kemari ga jelas, tapi akhirnya ada satu karyawan LionAir yang sangat baik dan membantu proses check-in dan per-bagasi-an gue dan Lidya. Thank you, so much!
Cape-cape agak ngeburu waktu masuk ke Hall A7 (seperti diinformasikan), ternyata eh ternyata…

Nunggu donk yah dulu agak lumayan lama di situ, dan untuk kemudian ternyata naiknya dari Hall A1! Cakep banget deh! Mana di saat yang sama ada penerbangan ke Surabaya dengan calon penumpang yang membludak. *brasa di terminal*
AKhirnya, duduklah gue di kursi (paling belakang – pojok kiri) dari Boeing 737-900ER ini, terpisah dari Lidya yang duduk agak ke depan.

Masih agak gugup (tepatnya parno), gara-gara rentetan berita tentang Sukhoi. Gue Cuma bisa duduk bengong aja. Kosong total kepala gue.

Gue Cuma bisa diam dan bengong. Mikirin beberapa hal buruk yang (only God knows) might happen at any time. Akhirnya, gue ambil itu kertas petunjuk doa-perjalanan yang disediain. Ngga henti-henti gue baca doa. Semakin bengong pas pesawat take-off, dengan suara gemuruh dan badan pesawat yang goyang-goyang.

(Gini yah kalo lagi parno, padahal dulu naik pesawat yang lebih kecil pas ke Balikpapan dengan goyangan yang lebih yahud, gue biasa-biasa aja )

Akhirnya, gue bisa tenang.. Gue bisa mulai rileks.. Dan bisa deh nulis blog ini di pesawat..
Kenapa bisa gitu? Oke, ini alasannya:

1. Doa-doa yang gue baca, bikin gue jauh lebih tenang. Pasrah sama Tuhan, dan tetap berdoa semoga perjalanan ini lancar.
2. Pemandangan yang super, yang disuguhkan oleh Tuhan ke gue melalui jendela pesawat ini. Bikin gue sangat ngerasa rileks, namun juga bikin gue semakin kagum atas kebesaran Tuhan.

Dan, factor yang ketiga ini juga agak2 important sih…

3. Ada 3 pramugari dan 1 pramugara. Pramugara-nya itu lohh.. Luncanggg, booo… (Sorry for my partner, it’s just a fun “sightseeing” moment kok).

Tapi bener deh, “pemandangan” indah lohh jadinya. Indah di luar pesawat, dan “indah” di dalam pesawat. Lucu gitu, tinggi, putih (tapi ga terlalu putih banget sih), keren, tegap gitu.
Yahh, lumayan lah untuk sekedar dinikmati selama perjalanan udara ini. Hehehe.
*kenikmatan pandangan loh yaa*

Well, ternyata batere notebook ini lupa gue charge. Mungkin segini dulu deh. Nanti gue share lagi, apa yang bisa gue share. Lumayan pengep juga ini kursi paling belakang, super ga oke banget!

Later, readers.. :D

One Tough Gay-related Question for Fag-Hags

As an openly gay guy with some amazing kind fag-hags (girl close-friends, that are happened to be so gay-friendly), I always have a tough-question I’d like to ask them to.

Had a chance last night to pop the question, after a dinner at Shabu House – Plaza Indonesia with my 2 fag-hags (Gita and Nuy) and my friend Ecko (he’s gay of course).

As we walked our way from Plaza Indonesia to Grand Indonesia, and Gita was walking along with me. I popped the question to her.

Git, you’re such a gay-friendly female. You’re so welcome with us and even be besties with me, Eko, Philip, Deni, & Ryo. What will you do if one day you have a son, and it turns out that he’s gay?

*Pretty Tough question, isn’t it?*

I bet that every single fag-hag won’t be quite ready to be given such question. I’m pretty sure they have no problem with gays and even be best-friends with gays turn out to be an excellent choice for them.

What if, one day, these fag-hags have a son who’s gay?

Gita reacted quite nicely last night. She said that she’s quite open for everything, and thanked me for asking her that.

Her opinion said that not every single gay-guy becomes gay from within (genetic, since-you’re-born, factor). She said that there are many guys turned gays because of the society one’s living in. That people around him that makes a guy turns gay.

She didn’t answer that she’s okay for her future son to be gay, nor disagree. She just said that the environment around her son should be as democratic as possible that give positive influences.

Moreover, if then her son is really turning gay. She said that she won’t make him feels like hes the victim of the society. A loving mother-son communication & sharing should be maintained really well.

Hmm..

Not clearly answered my question, but I saw what she did there. Pretty nice & wise, though.

Now, let me ask this question to thousands of fag-hags out there?? What would you do??